Artikel cyber media
Perkembangan teknologi komunikasi telah
dapat merubah tata cara manusia untuk me-
nyampaikan pesan dan informasi kepada ma-
nusia lainnya dengan begitu mudahnya.
dapat merubah tata cara manusia untuk me-
nyampaikan pesan dan informasi kepada ma-
nusia lainnya dengan begitu mudahnya.
Bahkan kini kehidupan
berkomunikasi manu-
sia modern tidak terlepas dari pengaruh dan
penggunaan teknologi.
sia modern tidak terlepas dari pengaruh dan
penggunaan teknologi.
Teknologi juga telah
menanamkan sub ba
baru dalam ilmu
komunikasi modern, yaitu Komunikasi Maya (CYBER COMMUNICA- TION).
Pengaruh Komunikasi
Maya bagi dunia
komunikasi sendiri, pada akhirnya merubah
dan memperbaiki tatanan paradigma lama
tentang ilmu komunikasi, termasuk cara
penyampaian pesan
1. TEORI: Sub materi teori berisi definisi-definisi
yang harus dipahami dalam Komunikasi Cyber
Media. Agar mata kuliah ini dapat menghasilkan pub-
likasi cyber yang tidak hanya memiliki nilai informatif,
namun juga sesuai dengan konsep komunikasi se-
bagai kajian utamanya, terutama dalam hal konten
penulisan.
komunikasi sendiri, pada akhirnya merubah
dan memperbaiki tatanan paradigma lama
tentang ilmu komunikasi, termasuk cara
penyampaian pesan
1. TEORI: Sub materi teori berisi definisi-definisi
yang harus dipahami dalam Komunikasi Cyber
Media. Agar mata kuliah ini dapat menghasilkan pub-
likasi cyber yang tidak hanya memiliki nilai informatif,
namun juga sesuai dengan konsep komunikasi se-
bagai kajian utamanya, terutama dalam hal konten
penulisan.
2. TEKNIKAL: Sub
materi yang berkaitan dengan
hal-hal teknis, dalam usaha memahami dan mener-
apkan Cyber Media sebagai wadah penyalur infor-
masi, termasuk teknik membuat PUBLIKASI BER-
BASIS DIGITAL. Seperti pemahaman MULTIMEDIA
yang kini telah menyatu didalam konteks Cyber,
hal-hal teknis, dalam usaha memahami dan mener-
apkan Cyber Media sebagai wadah penyalur infor-
masi, termasuk teknik membuat PUBLIKASI BER-
BASIS DIGITAL. Seperti pemahaman MULTIMEDIA
yang kini telah menyatu didalam konteks Cyber,
3. TAMPILAN: Sub
materi ini berisikan orientasi
visual yang harus diketahui dan dipelajari, mengi-
gat media cyber tidak hanya berisikan teks semata,
melainkan juga gambar, foto, dan media interaktif
lainnya yang akan menjadi daya tarik tersendiri pada
publikasi cyber. Seperti mempelajari format file yang
akan digunakan : gif, swf, pdf.
visual yang harus diketahui dan dipelajari, mengi-
gat media cyber tidak hanya berisikan teks semata,
melainkan juga gambar, foto, dan media interaktif
lainnya yang akan menjadi daya tarik tersendiri pada
publikasi cyber. Seperti mempelajari format file yang
akan digunakan : gif, swf, pdf.
CONTOH CYBER MEDIA
FRIENDSTER
FRIENDSTER
Sejarah Friendster
Oleh arsenda
Oleh arsenda
Friendster
Kita tentu tak asing lagi dengan kata Friendster. Nama tersebut telah lama melekat di benak pengguna internet, khususnya mereka yang gemar mencari teman dan membangun jaringan pertemanan di dunia maya. Demikian populernya, hingga mendorong berbagai content provider untuk menghadirkan situs layanan serupa. Jadi, jangan heran kalau saat ini Friendster sudah punya banyak “teman.”
Kita tentu tak asing lagi dengan kata Friendster. Nama tersebut telah lama melekat di benak pengguna internet, khususnya mereka yang gemar mencari teman dan membangun jaringan pertemanan di dunia maya. Demikian populernya, hingga mendorong berbagai content provider untuk menghadirkan situs layanan serupa. Jadi, jangan heran kalau saat ini Friendster sudah punya banyak “teman.”
“Jangan ngaku anak
gaul kalau nggak punya account di Friendster.” Begitulah kira-kira komentar
para remaja yang telah menjadi anggota Friendster.
Mungkin masih banyak
komentar lain -dengan gaya bahasa yang lain lagi- yang intinya sama; ada yang
kurang kalau belum jadi anggota Friendster. Sebagian dari Anda mungkin tidak setuju,
namun mesti diakui kalau Friendster adalah fenomena baru bagi pengguna
internet, yang dapat membentuk komunitas tanpa batas setelah e-mail, mailing
list, dan instant messenger.
Sebagai salah satu
situs pertemanan, Friendster paling banyak diminati di Indonesia. Sementara di
Amerika Serikat, kawula mudanya lebih gemar menjalin pertemanan di MySpace.
Mari kita telaah layanan-layanan tersebut satu-persatu. Kita mulai dari yang
paling akrab dengan kita, Frienster.
Sistem kerja
Friendster hampir mirip Multi Level Marketing (MLM). Kalau kita punya teman di
Friendster, secara otomatis kita akan masuk dalam jaringan teman kita tersebut.
Terus seperti itu, hingga terbentuk satu komunitas besar yang terus berkembang.
Yang unik dari Friendster ini, selain diskripsi diri lewat identitas dan foto,
layanan ini juga menyertakan testimonial yang diharapkan dapat menggambarkan si
empunya account dengan lebih obyektif.
Ngomong-ngomong,
siapa sih orang di balik kesuksesan Friendster? Friendster yang dikelola
perusahaan Friendster Inc. didirikan pada tahun 2002 berkantor pusat di Silicon
Valley, California, Amerika Serikat. Pendirinya adalah Jonathan Abrams, yang
sekaligus kreator dari Friendster. Jonathan sebelumnya adalah pendiri dan CEO
HotLinks. Ia pun pernah menjabat sebagai senior enginering pada perusahaan
internet terkenal Netscape dan Nortel. Abrams sendiri adalah lulusan Computer
Science dari McMaster University.
Ketika perkembangan
Friendster memperlihatkan tanda-tanda kemajuan, pengelolanya mendapat suntikan
dana US$ 13 juta dari berbagai investor. Lalu pada Juni 2004 Friendster
merekrut seorang profesional bisnis. Dia adalah Scott Sassa, mantan President
stasiun televisi NBC Entertainment.
Hingga 2006, pengguna
Friendster diperkirakan mencapai 20 juta orang dari berbagai belahan dunia.
Namun menurut survei comScore Media Metrix, tahun ini trafik pengunjung
Frienster cenderung menurun. Kalau bulan Oktober 2005 Friendster dikunjungi 1,7
juta pengguna internet (unique visitor), maka pada bulan April 2006 pengunjungnya
tercatat hanya 1 juta orang.
Layanan Serupa
Maklumlah, kini Friendster tak sendirian lagi sebagai pembentuk komunitas internet. Friendster sudah punya banyak saingan, salah satunya Orkut (www.orkut.com) yang dikelola oleh perusahaan yang mengelola Google. Teman Friendster yang lain, yang sering disebut-sebut, bahkan dipublikasikan pengguna Friendster adalah MySpace (www.myspace.com). Bentuk MySpace hampir serupa dengan Friendster, hanya saja MySpace memberikan beberapa tambahan fitur, seperti Blog, Free Email, Forum, Music, dan Game. Dari tampilan foto dan banner di situs ini, tampaknya MySpace ditujukan untuk konsumsi orang-orang dewasa.
Maklumlah, kini Friendster tak sendirian lagi sebagai pembentuk komunitas internet. Friendster sudah punya banyak saingan, salah satunya Orkut (www.orkut.com) yang dikelola oleh perusahaan yang mengelola Google. Teman Friendster yang lain, yang sering disebut-sebut, bahkan dipublikasikan pengguna Friendster adalah MySpace (www.myspace.com). Bentuk MySpace hampir serupa dengan Friendster, hanya saja MySpace memberikan beberapa tambahan fitur, seperti Blog, Free Email, Forum, Music, dan Game. Dari tampilan foto dan banner di situs ini, tampaknya MySpace ditujukan untuk konsumsi orang-orang dewasa.
Situs serupa yang
juga dilengkapi banyak fitur juga disajikan Multiply (www.multiply.com).
Uniknya, pengguna Multiply bisa meng-invite secara langsung teman-temannya di
Friendster dan Orkut.
Ada lagi MeetUp
(www.meetup.com). Bedanya dengan Friendster, situs ini membagi penggunanya
berdasarkan tempat tinggal dan minat masing-masing. Begitu masuk situs ini,
kita langsung ditanya negara dan kota mana yang kita inginkan. Ketika penulis
mengunjungi MeetUp, member dari Jakarta sudah mencapai lebih dari 5000 orang.
Pembagian kategori
berdasarkan minat seperti MeetUp juga menjadi andalan Tribe.Net
(www.tribe.net), temen Friendster yang lain. Bahkan di halaman depan sudah ada
pembagian member berdasarkan kategori minat dan jumlahnya.
Bila Friendster
membuka komunitas online dengan teman tanpa batasan, beberapa situs lain
membuka komunitas online berdasarkan kriteria khusus. Linkedin
(www.linkedin.com) misalnya, ingin membantu penggunanya membuka komunitas
online bagi profesional.
Artinya komunitas ini
sangat berguna bagi kelancaran pekerjaan atau bisnis masing-masing member. Lalu
ada juga TheFaceBook (www.thefacebook.com) yang membentuk komunitas online
melalui jaringan kampus. Jadi kita bisa mencari keberadaan temen-temen sekampus
dulu dan kini melalui jaringan TheFaceBook.
Terakhir ada juga
jaringan komunitas online yang ditujukan bagi pencari kerja, yaitu Monster (www.monster.com).
Ternyata banyak member Indonesia yang bergabung di situs yang dikelola
Microsoft ini.
Di Indonesia
Layanan Friendster versi Indonesia pun belakangan banyak muncul. Yang pertama adalah Temanster (www.temanster.com). Boleh dibilang situs ini adalah foto copy Friendster yang berbahasa Indonesia. Sama persis.
Layanan Friendster versi Indonesia pun belakangan banyak muncul. Yang pertama adalah Temanster (www.temanster.com). Boleh dibilang situs ini adalah foto copy Friendster yang berbahasa Indonesia. Sama persis.
Lalu yang kedua
adalah Sohib (www.sohib.com). Ini juga sangat mirip dengan Friendster, hanya
desainnya lebih berwarna dengan pilihan warna-warna pastel. Terakhir adalah
Fupei (www.fupei.com) yang desainnya sederhana, tapi banyak fitur tambahan
seperti Jurnal (Blog), Forum, dan Games.
Dari ketiga situs
friendster Indonesia itu, Sohib memiliki paling banyak member (9.000-an).
Sedang Fupei memiliki 3.500 member dan Temanster 3.000 member.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar